Peristiwa Isra Mi’raj merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang melampaui batas nalar dan logika manusia. Rasulullah menempuh perjalanan kilat dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Allah kemudian mengangkat beliau melintasi tujuh lapis langit hingga mencapai titik tertinggi bernama Sidratul Muntaha. Momen ini terjadi pada malam 27 Rajab dengan pengawalan malaikat Jibril dan kendaraan Buraq. Kejadian luar biasa ini membawa pesan spiritual yang menjadi fondasi utama dalam praktik ibadah umat Islam. Mari kita telaah lebih jauh mengenai latar belakang sejarah yang mengawali perjalanan suci ini.
Sejarah Isra Mi’raj
Allah memberikan hadiah perjalanan ini saat Rasulullah berada pada puncak masa kesedihan atau Amul Huzni. Beliau baru saja kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib, secara berturut-turut. Tekanan kaum kafir Quraisy terhadap dakwah Islam di Mekkah juga semakin keras dan menyakitkan hati.
Perjalanan suci ini berfungsi sebagai pelipur lara sekaligus penguatan mental bagi perjuangan Rasulullah ke depannya. Allah ingin memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung kepada hamba pilihan-Nya tersebut. Pengetahuan tentang latar belakang ini membantu kita memahami betapa pentingnya makna spiritual di balik setiap kejadiannya.
Baca juga: 5 Etika Berinteraksi di Media sosial Menurut Islam ›
Makna Spiritual

Setiap persinggahan dalam perjalanan ini mengandung simbolisme yang sangat mendalam bagi kualitas keimanan seorang Muslim. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah memimpin salat berjamaah bersama para nabi dan rasul terdahulu sebagai makmum. Hal ini menegaskan posisi beliau sebagai pemimpin para nabi sekaligus penutup seluruh risalah samawi.
Selama di langit, Rasulullah bertemu dengan nabi-nabi besar seperti Nabi Adam, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim. Pertemuan tersebut melambangkan kesinambungan ajaran tauhid sejak manusia pertama hingga akhir zaman nanti. Setelah memahami simbolisme perjumpaan antar nabi, kita perlu melihat inti dari dialog antara Nabi Muhammad dengan Allah.
Baca juga: Hikmah di Balik Shalat Tahajud ›
Perintah Salat dalam Isra Mi’raj
Inti dari seluruh rangkaian perjalanan ini adalah penerimaan perintah salat lima waktu secara langsung tanpa perantara. Awalnya, Allah mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan ibadah salat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Rasulullah kemudian bolak-balik meminta keringanan setelah mendapat saran dari Nabi Musa yang mengkhawatirkan kemampuan umat.
Kasih sayang Allah akhirnya menetapkan kewajiban salat menjadi lima waktu namun dengan nilai pahala yang tetap besar. Salat menjadi “Mi’raj” bagi orang mukmin untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Sang Pencipta setiap waktu. Ibadah ini merupakan warisan abadi yang menjaga hubungan hamba dengan Tuhannya tetap tegak dan kokoh.
